Jumat, 01 Juni 2012

PENGENALAN CIRI UMUM BIOREPRODUKSI SATWA


PENGENALAN CIRI UMUM BIOREPRODUKSI SATWA
“Ular Piton ( Phyton reticulatus), Tekukur Biasa (Streptopelia chinensis) dan Landak Susu (African Pygmy Hedgehog)

 Oleh:
Arya Arismaya Metananda

PENDAHULUAN
a.    Latar Belakang
Keberadaan ular piton ( Phyton reticulatus), tekukur biasa (Streptopelia chinensis) dan landak susu (African Pygmy Hedgehog) saat ini menjadi perhatian banyak orang. Ketiga satwa ini termasuk satwa familyar yang kerap dipelihara oleh masyarakat, baik dalam penangkaran maupun hanya sekedar karena faktor kesukaan “pets” (Pakihudin, 2002). Dengan semakin meningkatnya permintaan terhadap satwa ini, menyebabkan keberadaannya di alam  semakin terancam. Belum lagi di habitat alaminya yang terus mengelami tekanan perusakan seperti dengan semakin luasnya pembukaan kawasan hutan menjadi non-hutan yang menyebabkan habitat satwa ini semakin terdesak, selain itu perburuan liar yang terus berlangsung semakin mempercepat penurunan populasi satwa ini di habitat alaminya.
Dalam upaya untuk mengurangi tekanan-tekanan terhadap kehidupannya di alam, terutama akibat perburuan liar maka perlu ditingkatkan kegiatan-kegiatan konservasi ex-situ yang salah satu diantaranya melalui kegiatan penangkaran. Seperti dalam undang-undang Nomor 5 tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati Dan Ekosistemnya menyebutkan bahwa pemanfaatan hidupan liar dimungkinkan dilakukan baik dalam bentuk pengkajian, penelitian dan pengembangan, penangkaran, perburuan, perdagangan, peragaan, pertukaran, budidaya tanaman obat-obatan atau pemeliharaan untuk kesenangan. Penangkaran terhadap ketiga satwa ini merupakan awal dari usaha pemanfaatan secara menyeluruh, sebelum berkembang lebih lanjut ke arah peternakan. Baik ular piton (Phyton reticulatus), tekukur biasa (Streptopelia chinensis) dan landak susu (African Pygmy Hedgehog) sebenarnya memiliki nilai ekologi, ekonomis dan estetika yang sangat tinggi. Dari segi ekologi satwa ini menjadi sumber plasma nutfah dan memberikan keseimbangan bagi rantai makanan di alam. Dari segi estetika, satwa ini terbukti banyak dipelihara oleh masyarakat karena mempunyai nilai keindahan tersendiri. Sedangkan dari segi ekonomi satwa ini dapat menjanjikan bagi pengembangan perekonomian dengan menjadikan satwa ini sebagai komoditi komersil, mulai untuk pets, obat-obatan, maupun untuk fungsi lainnya.
Tentunya dalam upaya penangkaran terhadap ketiga satwa diatas, diperlukan informasi yang cukup, terutama tentang bioreproduksi satwa karena tingkat keberhasilan suatu penangkaran dilihat dari keberhasilan kawin dan menghasilkan keturunan dari kegiatan penangkaran tersebut. Ini menjadi penting karena dalam menjamin keberlangsungan satwa diperlukan perlakuan-perlukuan seperti persilangan (perkawinan) dan untuk mengetahui serta meningkatkan keberhasilan proses tersebut diperlukan informsi yang cukup terkait bioreproduksi sebelum satwa tersebut disilangkan. Mulai dari informasi tipe perkawinan, musim kawin, estrus, sampai pada prilaku reproduksi.

b.   Tujuan
1.    Pengenalan ciri umum biologi reproduksi satwa liar
2.    Membedakan satwa berdasarkan ciri biologi reproduksi


METODE

Pencarian data terkait dengan reproduksi satwa baik itu ular piton ( phyton reticulatus), tekukur biasa (Streptopelia chinensis) dan landak susu (African Pygmy Hedgehog) dilakukan dengan studi pustaka (skripsi, tesis, disertasi, laporan, jurnal ilmiah) dan mengunduh dari internet

  HASIL DAN PEMBAHASAN


A.  Ular piton (Phyton reticulatus)

Kingdom         : Animalia
Phylum            : Chordata
Class                : Reptilia
Order               : Squamata
Family             : Pythonidae
Genus              : Python
Species            : P. reticulatus

Diskripsi Umum
Ular piton atau dikenal sebagai ular sanca merupakan keluarga Phytonidae yang terdapat sekitar 26 jenisnya di dunia. Bersama dengan Anaconda, Ular piton merupakan ular terbesar di kelompoknya. Ular Piton atau Sanca kembang merupakan jenis piton yang ditemukan di Asia Tenggara. Jenis Piton sendiri memiliki 7 spesies di dunia dan untuk piton batik sudah terdapat beberapa variasi jenis yang merupakan hasil perkawinan silang, antara lain tiger albino piton, sunfire golden piton, calico, ivory dan lain sebagainya.
Habitat piton adalah hutan basah, rawa, sungai dan danau. Sarangnya juga ditemukan di gua dan daerah berbatu. Ular dewasa dapat mencapai panjang 11 m, oleh karena itu ular piton kembang merupakan ular dan reptil terpanjang di dunia. Menurut The Guinness Book of World Records tahun 1991 mencatat piton kembang sepanjang 10 meter sebagai ular yang terpanjang.
Ular Piton merupakan jenis ular yang menghabiskan waktunya berada di pohon dengan cara memanjatnya dan ular jenis ini juga memiliki kemampuan berenang sehingga dapat berpindah tempat ke pulau-pulau lain dalam jangkauannya. Ular piton bersifat nokturnal atau aktif pada malam hari. Hewan karnivora ini, makanan utamanya adalah mamalia kecil, burung dan reptilia lain seperti biawak. Ular yang kecil memangsa kodok, kadal dan ikan. Walaupun tampak berbahaya, namun ular piton ternyata tidak memiliki bisa. Cara piton berburu adalah dengan cara mengendap mendekati mangsanya atau berdiam diri sampai mangsanya mendekat lalu mencengkram mangsanya dengan rahang yang besar dan meremukkan tubuh mangsanya dengan lilitan otot tubuhnya. Metabolisme ular sangat lambat. Sehabis menelan mangsanya dibutuhkan waktu berhari-hari bahkan mingguan untuk membuatnya makan kembali.
Ular Phyton reticulatus memiliki corak sisik yang merupakan perpaduan antara warna coklat, emas, hitam dan putih. Ular P. reticulatus termasuk satwa ektotermik, sehingga untuk mencukupi kebutuhan panasnya, satwa ini harus mengambil panas dari lingkungan. Perilaku berjemur di bawah sinar matahari langsung yang biasa disebut basking adalah untuk mendapatkan panas. Satwa yang dikategorikan dalam appendix II ini, banyak dimanfaatkan oleh manusia sebagai hewan peliharaan atau koleksi kebun binatang yang berguna dalam tujuan pendidikan masyarakat. Daging dan organ dalamnya dimanfaatkan sebagai bahan makanan. Ular P. reticulatus memiliki sepasang ovarium dan oviduk sebagai saluran reproduksinya. Pada ular P. reticulatus memiliki sepasang testes, tubuli seminiferi sebagai saluran reproduksinya dan sepasang hemipenis sebagai alat kopulasinya. Sedangkan kloaka, merupakan pintu dari tiga saluran (pencernaan, eksresi dan reproduksi).

Tipe Perkawinan
Phyton reticulatus termasuk satwa yang bersifat poligamus. Setelah bertelur, ular ini dapat saja tidak mengerami telurnya melaikan kawin lagi sehingga memungkinkan mengasilkan jumlah telur yang lebih banyak.
Musim kawin
Musim kawin ular piton (Phyton reticulatus) yang dilakukan di kandang penangkaran berkisar antara bulan Mei hingga Oktober. Adapun penetuan sex ratio bagi ular ini adalah 1 : 1. Hal ini dilakukan karena apabila dalam kandang terjadi lebih dari satu pasangan, maka kemungkinan besar akan terjadi perkelahian (agonistik) untuk memperebutkan pasangan.
Secara umum musim kawin berlangsung antara september hingga maret di asia. Ular betina memiliki tubuh yang lebih besar. Jantan maupun betina akan berpuasa di musim kawin, sehingga ukuran tubuh menjadi hal yang penting di sini. Betina bahkan akan melanjutkan puasa hingga bertelur, dan sangat mungkin juga hingga telur menetas.
Minimum Dan Maximum Breeding Age
Ular piton termasuk ular yang berumur panjang, hingga lebih dari 25 tahun. Ular piton dewasa setelah berusia 3 – 4 tahun. Dewasa kelamin pada ular piton (Phyton reticulatus)  terjadi pada umur 2.5 tahun hingga 3 tahun. Setelah dewasa ular dapat dicoba untuk dikawinkan dengan dipasangan pada suatu tempat selama 1 minggu. Setelah terjadi perkawinan, ular jantan dipisahkan kembali. Untuk ular yang belum pernah kawin, maka penjodohan dapat dilaksanakan selama 4 minggu hingga 6 minggu kemudian dipisahkan selama beberapa minggu untuk observasi dan pemberian pakan. Hal  ini dilakukan untuk mengetahui tanda-tanda bunting pada ular piton. Umumnya tanda-tanda tersebut baru dapat diketahui setelah 2 minggu dari masa kopulasinya.

Estrus
Saat ini belum ada metode sederhana yang dapat digunakan utnuk mendeteksi siklus estrus atau periode fertil pada ular. Sejauh ini penentuan estrus atau masa kawin dilakukan berdasarkan perubahan tampilan fisik dan tingkah laku. Ular betina yang mengalami masa subur bisaanya dapat diketahui dengan perilaku menolak makanan yang diberikan (puasa).
Lama Kebuntingan, Masa Inkubasi dan Jumlah Anak Per Kelahiran
Ular piton (Phyton reticulatus) dapat bertelur sebayak 10-20 butir. Untuk setiap masa bertelur, ular ini akan melahirkan anak dengan panjang 30 cm dan berat 9 gram. Sebelum bertelur ular akan mengerami telurnya dengan cara melingkarkan badannya untuk menyelimuti telur. Untuk kepentingan budidaya, telur dapat dierami dengan menggunakan inkubator. Akan tetapi penggunaan inkubator dapat membuat induk menjadi lebih agresif. Oleh karena itu sebaiknya bagian kandang yang tembus pandang ditutupi dengan kain. Selain itu penjagaan terhadap perubahan suhu dan kelembaban udara dalam kandang juga harus diperhatikan. Hal ini dapat menggunakan baki air dalam kandang.
Daya tetas telur ular piton (Phyton reticulatus)  dengan pengeraman alami mencapai 80% dan bahkan ditemui juga yang mencapai 100%. Telur yang tidak akan jadi anakan bisaanya terpisah dari induk waktu dierami. Sedangkan daya tetas dengan menggunakan inkubator bervariasi antara 70% hingga 80%. Penggunaan inkubator harus mengusahakan agar kondisi suhu tetap atau tidak berfluktuasi terlalu jauh (Pamungkas RB,  2001).
Daya tetas menggunakan inkubator memang lebih rendah jika dibandingkan dengan menggunakan induk secara alami. Kejadian tersebut disebabkan kurang hati-hati pada saat pemindahan telur dari sarang ular ke inkubator. Teknik pemindahan telur ke sarang tetas pada intinya menjaga posisi telur agar sama seperti pada saat dikeluarkan oleh induk. Teknik ini bertujuan unuk menjaga agar saluran pembuluh darah embrio tidak tertutupi oleh kuning telur. Dan apabila saluran tersebut tertutupi, maka embrio akan mati. Disini, teknik yang digunakan adalah dengan memberikan tanda hitam pada bagian atas telur (Junaedi 1999).
Walaupun daya tetas dengan menggunakan inkubator lebih rendah jika dibandingkan penetasan secara alami, terkadang penangkaran tetap menggunakan inkubator sebagai mesin penetas. Adapun alasannya adalah:
1.      Penetasan dapat terjamin sebesar 70%  hingga 80% meskipun masih ada masa kritis (kondisi dibawah normal).
2.      Kesehatan induk lebih terjamin jika dibandingkan dengan penetasan alami yang rentan terhadap serangan penyakit.
3.      Induk yang telah bertelur dapat melakukan perkawinan lagi tanpa mengalami masa pengeraman selama 55 hari hingga 60 hari sehingga akan lebih cepat menghasilkan keturunan lagi.
Penggunaan inkubator dimulai dengan memindahkan telur ke dalam kontainer (kotak) yang diberi alas. Pemindahan telur ini sebaiknya dilakukan oleh dua orang untuk menghindari kerusakan telur akibat gerakan ular yang cenderung lebih agresif. Kumpulan telur ini biasanya saling melekat dan berada pada posisi tertentu. Telur-telur ini tidak boleh dipisah-pisahkan. Telur ini harus dipindahkan sekaligus dan diletakkan dalam posisi sesuai kondisi awalnya pada saat dierami induknya. Perubahan posisi telur yang berlebihan dapat menyebabkan kematian embrio dalam telur.
Alas telur dalam kotak sebaiknya menggunakan vermiklit karena tahan api dan tidak ditumbuhi jamur serta bakteri selama masa inkubasi. Sebelum digunakan, alas sebaiknya dibasahi dengan air agar lembab. Suhu ideal inkubasi telur ular piton (Phyton reticulatus) adalah berkisar antara 30 °C hingga 32 °C dan dengan kelembaban relatif sekitar 92%. Kelembaban relatif yang rendah dapat menyebabkan telur mengalami dehidrasi dan mengakibatkan kematian embrio. Sedangkan perubahan suhu yang terlalu besar dapat menyebabkan kelainan teratogenetik dan kematian (Ros et al. 1990).
Telur dapat diinkubasi selama 55 hari hingga 60 hari. Selama inkubasi bisa terjadi perubahan warna pada kulit  telur. Perubahan warna pada kulit telur ini dapat berupa perubahan transparansi kulit menjadi bercak air yang lebih dikenal dengan sebutan “Water spot”. Telur yang mati biasanya berwarna kuning pucat pada tahap awal kemudian menjadi kuning kehijauan dan menyebar ke seluruh permukaan telur. Perubahan warna tersebut disebabkan oleh proses pembusukan yang disebabkan oleh bakteri gram negatif. Sehingga sebaiknya telur yang mati ini dipindahkan karena bakteri pembusuk dan kapang yang tumbuh dapat menyebar ke telur yang lain.
Dua minggu sebelum menetas biasanya akan terbentuk lekukan pada kulit telur. Lekukan ini biasanya semakin menjadi besar hingga saat menetas. Semua telur dapat menetas dalam kurun waktu 48 jam. Maka dalam kurun waktu 48 jam setelah penetasan pertama terdapat telur yang belum menetas, telur tersebut akan dibantu penetasannya dengan cara dibuka kulit telurnya. Rata-rata telur mengambil 88 hari untuk menetas.
Selepas menetas dari telurnya, anak-anak ular phyton langsung dapat mandiri. Mereka tidak terpaku pada induknya. Induk yang telah menetas dapat langsung kawin kembali setelah memakan waktu ± 88 hari.
Perilaku Reproduksi
Perilaku satwa adalah ekspresi satwa yang disebabkan oleh faktor-faktor yang mempengaruhinya. Faktor tersebut adalah faktor dalam (endogenous factor) dan faktor luar (exogenous factor) serta faktor pengalaman dan faktor fisiologi (Sentanu 1999). Selanjutnya dikatakan bahwa faktor-faktor yang mempengaruhi tingkah laku binatang tersebut dikatakan sebagai rangsangan, sedangkan aktivitas yang ditimbulkan oleh rangsangan tersebut dikenal dengan nama respon (Tanudimadja & Kusumamihardja 1985). Tanudimadja dan Kusumamihardja (1985) juga mengatakan bahwa fungsi dari perilaku adalah untuk memungkinkan satwa beradaptasi terhadap perubahan, baik perubahan dari dalam (internal) maupun perubahan dari luar (external) tubuh satwa.
Secara umum perilaku seksual pada ular piton (Phyton reticulatus) hampir sama dengan perilaku pada jenis-jenis reptil yang lain yakni terdapat 5 tahapan, seperti yang diuraikan oleh (Suharmono 1998). Tahapan-tahapan perilaku seksual tersebut adalah:
1. Menarik perhatian
Perilaku kawin dimulai dengan perilaku menarik perhatian (courtship) yang dilakukan oleh induk jantan kepada induk betina. Dalam menarik perhatian induk betina, umumnya induk pejantan menampilkan gerakan-gerakan sembari menjulurkan lidahnya.
2. Bercumbu
Setelah menangkap tubuh betina, maka pejantan akan melakukan percumbuan. Percumbuan yang dilakukan pejantan adalah dengan mencengkram betina, menggigit lehernya sambil meninggalkan luka. Setelah itu betina dilepaskan kembali.
3. Menaiki
Tahap menaiki yang dilakukan pejantan hampir sama dengan tahap bercumbu. Untuk tahap ini posisi jantan tidak terletak di atas tubuh betina, akan tetapi menjatuhkan dirinya disamping tubuh induk betina.
4. Intomisi dan Ejakulasi
Tahap intomisi diawali dengan berontaknya betina sehingga menyebabkan terangkatnya lubang kloaka betina. Pada saat bersamaan pada lubang kloaka pejantan muncul organ hepernis sehingga kedua lubang tersebut bertemu dan organ hepernis jantan masuk ke kloaka betina hingga organ hemipenis jantan mengeluarkan cairan sperma.
5. Relaksasi
Merupakan tahapan terakhir dari seksual ditandai dengan melepasnya organ hemipenis dan ekor pejantan mengendorkan cengkeramannya dan melepaskan leher betina. Perilaku yang terjadi setelah tahap ini adalah berdiam diri ditempatnya untuk istirahat.
Menurut Gillingham et al. (1977) tingkah laku reproduksi berikut ini terjadi pada saat ular melaksanakan perkawinan. Tingkah laku tersebut adalah:
1. Tahap mendekati
Pada tahap ini betina akan bergerak pelan ke depan, jantan akan mengejar dan merayap dibagian dorsal betina, meluruskan dan mensejajarkan bagian kloakanya. Pada saat jantan mengejar betina bisa saja gerakan ular jantan tersebut kuat dan kasar. Dan jika betina menolak untuk dikawini umumnya betina akan bergerak menjauhi pejantan.
2. Tahap menstimulasi
Ular jantan memutar posisi ekor menjadi di bawah ekor betina, berusaha mempertemukan bagian kloakanya dengan kloaka betina. Betina dapat mengangkat ekornya sendiri ataupun diangkatkan oleh ekor ular jantan. Kadang-kadang ular jantan menggunakan tajinya untuk menstimulasi betina untuk mengangkat ekornya. Ular betina yang tidak mau dikawini umumnya tidak mau mengangkat ekornya.
3. Tahap mempertemukan kloaka
Jantan meluruskan ekornya dengan betina, kemudian mempertemukan bagian kloaka kedua ular.
4. Tahap bersetubuh.
Ular betina yang mau dikawini, maka ular tersebut akan mengangkat ekornya dan membuka kloakanya dan kemudian pejantan akan memasukkan hemipenisnya ke dalam kloaka betina.


 B.  Tekukur Biasa (Streptopelia chinensis)
Kerajaan: Animalia
Filum     : Chordata
Kelas     : Aves
Ordo      : Columbiformes
Famili    : Columbidae
Genus    : Streptopelia
Spesies  : Streptopelia chinensis


Tipe Perkawinan
Dilihat dari sistem perkawinannya, burung ini dapat digolongkan kedalam kelompok burung monogamous temporalis yakni berpasangan tunggal temporal setidaknya dalam satu musim atau periode kawin, sedangkan pada periode kawin berikutnya dapat kawin dengan pasangan lain (Masy`ud, 1989)

Musim Kawin
Beberapa literatur menyebutkan, bisa saja terjadi perbedaan waktu berbiak atau musim kawin pada burung tekukur yang berada di alam dengan yang berada di penangkaran. Ini terlihat dari pengamatan di penangkaran dimana musim kawin tersebut berlangsung pada bulan September sampai Desember, walaupun pengamatn dialam aslinya terkadang tidak pada bulan-bulan itu. Tekukur biasa disebut hewan pekawin bermusim (seasonal breeder). Salah satu faktor yang kuat berpengaruh terhadap perubahan pola reproduksi antara di alam bebas dengan di penangkaran adalah faktor makanan terutama yang berkaitan dengan kontinuitas ketersediaan pakan (energi) untuk memenuhi kebutuhan reproduksinya. Ruang gerak yang terbatas dalam seluruh aktivitas burung di penangkaran juga membawa implikasi pada efisiensi pemanfaatan energi yang relatif tinggi, sehingga ketersediaan energi tersebut selain untuk memenuhi kebutuhan hidup pokok secara optimal juga dapat digunakan untuk menunjang proses reproduksi.
Tanda-tanda mulai kawin pertama kali biasanya didahului oleh perilaku membentuk pasangan, membuat sarang dengan mencari dan membawa bahan sarang berupa rumput-rumput atau ranting kecil ke dalam sarang. Burung jantan mulai mengeluarkan bunyi untuk menarik pasangannya dan frekuensi keluar masuk sarang meningkat sejalan dengan mendekatnya waktu kawin.  Perkembangan organ reproduksi burung untuk mencapai tahap fungsional yang ditandai oleh adanya aktivitas perkawinan dan produksi sperma dan sel telur dipengaruhi oleh banyak faktor baik internal maupun eksternal. Faktor internal yang penting adalah rangsangan hormon (FSH & LH) disamping kesiapan organ reproduksi betina yang secara tidak langsung memberikan andil dalam kerja hormon FSH dalam proses pematangan folikel ataupun hormon LH dalam proses spermatogenesis. Sedangkan faktor eksternal antara lain adalah faktor asupan pakan dengan kualitas dan keseimbangan gizi yang cukup (Parker, 1969; Toelihere, 1985; Grimes, 1994; Etches, 1996).

Minimum dan Maximum Breeding Age
Menurut Sibley dan Ahlquist (1990), ada beberapa peubah demografi yang berhubungan seperti hubungan antara usia hidup (longevity) dengan ukuran sarang (clutch size). Umumnya burung-burung yang kawin pertama kali pada usia satu tahun atau burung-burung yang berumur pendek, bertelur lebih dari dua butir per sarang dan memiliki lebih dari satu sarang per tahun, dengan daya hidup telur dan anak relatif rendah. Sebaliknya burung-burung yang usia kawin pertamanya lebih lambat sampai empat tahun atau lebih, cenderung bertelur satu atau dua butir telur per sarang dan hanya satu kali dalam satu tahun, dan mempunyai daya tahan hidup yang lebih tinggi dan berumur panjang. Hal ini tampaknya juga berlaku pada burung tekukur yang memasuki kawin pertama pada usia satu tahun atau kurang dengan jumlah telur per sarang rata-rata dua butir dan memiliki beberapa sarang (dapat bertelur beberapa kali) dalam satu tahun. Sebagai penanda usia siap kawin, pada burung betina yang belum siap secara fisiologis biasanya selalu terbang menghindar/ menjauh jika didekati atau dicumbu oleh pejantan.

Jumlah Telur Per Sarang (Clutch Size)
Hasil pengamatan terhadap jumlah telur dalam satu irama bertelur (ukuran sarang – clutch size) terhadap burung tekukur biasa yakni 1.70 ± 0.48 (1-2) butir.
Ada beberapa faktor yang diduga berpengaruh terhadap jumlah telur dalam satu irama bertelur (clutch size), diantaranya umur burung, berat badan, makanan, kondisi kesehatan dan lingkungan kandang (luas, suhu dan kelembaban serta ada tidaknya gangguan) (Parker 1969; Etches 1996). Nalbandov (1990) mengemukakan bahwa variasi jumlah telur yang dihasilkan burung dalam satu masa irama bertelur juga dipengaruhi oleh susunan genetik kelenjar pituitari, terutama pada jumlah gonadotropin yang dihasilkannya. Menurut Short (1993), jumlah telur yang dihasilkan suatu jenis burung dalam suatu irama bertelur (clutch size) ditentukan oleh seleksi alam dari berbagai faktor yang berkaitan dengan kehidupan burung.
Ada tiga faktor utama yang diketahui berpengaruh terhadap evolusi yang menentukan ukuran sarang (clutch size), meskipun ada peluang individual dan variasi geografik yang terjadi. Ketiga faktor tersebut adalah : Pertama, kemampuan induk bekerja dengan kapasitas maksimum dalam membangun sarang dan menyiapkan makanan untuk anaknya setiap hari. Makin banyak telur yang dihasilkan maka makin besar usaha yang harus dilakukan induk untuk memelihara telur tersebut. Kedua, besarnya peluang telur menjadi anak dan bertahan secara relatif tidak diganggu predator. Makin kecil peluang hidup dan makin besar gangguan predator maka jumlah telur yang dihasilkan cenderung lebih banyak. Ketiga, daya hidup induk burung untuk memelihara dirinya dan anaknya. Dikatakan pula bahwa ukuran sarang (clutch size) juga ditentukan oleh metode burung mencari makan. Secara umum burung-burung yang dapat mencari makan sepanjang hari namun cenderung lebih suka makan selama jam-jam terang cahaya pada pagi dan malam hari, biasanya bertelur dua butir. Letak lintang (latitude) dimana burung itu biasa bertelur dan membuat sarangnya juga menyebabkan perbedaan clutch size. Dalam sekali bertelur, burung tekukur biasa mengeluarkan dua telur.

Lama Pengeraman Telur (Inkubasi)
Hasil pengamatan lama pengeraman telur terhadap beberapa sarang diperoleh gambaran bahwa lama pengeraman telur pada burung tekukur yakni sekitar 14 hari masing-masing 14.50 ± 0.76 hari. Ada beberapa faktor yang diketahui berpengaruh terhadap lama masa pengeraman telur burung, diantaranya faktor suhu dan kelembaban. Menurut Short (1993), pada musim panas dimana suhu relatif lebih tinggi untuk daerah-daerah panas, periode pengeraman telur lebih pendek. Sebaliknya pada musim dingin atau daerah dimana suhu lebih rendah (dingin) maka lama waktu pengeraman telur relatif lebih lama. Disamping faktor suhu, variasi kebutuhan induk untuk makan (mencari makan) dan mempertahankan diri juga berpengaruh secara nyata terhadap variasi lama pengeraman telur. Meskipun ada pengecualian namun secara umum telah diketahui biasanya jenis burung dengan telur berukuran lebih kecil dan ukuran sarangnya (clutch size) kecil mempunyai masa pengeraman telur lebih pendek yakni sekitar 11 hari.
Berdasarkan pandangan tersebut, dalam banyak laporan diketahui bahwa jenis-jenis burung dengan ukuran dan jumlah telur per sarang seperti halnya burung tekukur yakni dua butir, mempunyai rata-rata lama pengeraman telur kurang lebih 14 hari. Adanya variasi satu sampai dua hari dalam waktu lama pengeraman telur antara lain disebabkan adanya variasi suhu dan kelembaban lingkungan. Umumnya hasil pengamatan menunjukkan bahwa pada musim penghujan, masa pengeraman telur relatif lebih lama satu sampai dua hari dibanding pada musim panas.

Jarak Waktu Periode Bertelur (Nest Period)
Hasil pengamatan terhadap jarak waktu antara dua masa bertelur (periode bertelur) pada burung tekukur memperlihatkan ada dua kondisi yang dapat dibedakan untuk menghitung jarak waktu bertelur, yakni (1) kondisi normal, artinya pada keadaan mulai bertelur, mengeram, menetas sampai anak disapih (alamiah), dan (2) kondisi tidak normal, yakni pada keadaan dimana telur busuk, tidak menetas dan pecah. Jarak waktu bertelur pada keadaan normal pada burung tekukur adalah 48,79 ± 3.53 hari. Sedangkan pada keadaan tidak normal jarak waktu bertelur relatif lebih cepat yakni 31,22 ± 5,63 hari.
Adanya variasi individual dalam hal jarak waktu bertelur (nest period) pada keadaan normal antara lain berhubungan dengan jumlah anak per sarang (brood size). Pada induk-induk burung dengan jumlah anak lebih banyak (dua ekor) maka jarak waktu bertelur antar dua periode bertelur relatif lebih lama dibanding induk burung dengan jumlah anak lebih kecil (satu ekor). Sedangkan pada keadaan tidak normal dimana telur pecah, busuk atau tidak menetas, maka jarak waktu bertelur pada burung tekukur menjadi lebih singkat yakni kurang dari 40 hari. Pada pengamatan yang lebih spesifik diperoleh gambaran secara umum bahwa pada keadaan telur tidak menetas, burung akan segera kembali bertelur jika telur yang tidak menetas itu segera diambil. Artinya setelah melewati hari ke-16 sampai hari ke-18 dari masa pengeramannya, telur yang tidak menetas itu segera diambil, maka dalam waktu singkat sekitar 7-14 hari setelah telur diambil induk burung akan segera bertelur kembali.
Berdasarkan kondisi jarak bertelur seperti itu, maka dalam keadaan normal seekor induk burung tekukur dalam satu tahun dapat bertelur empat sampai enam kali. Ini berarti bahwa di penangkaran pola reproduksi (bertelur) burung tekukur dapat berlangsung sepanjang tahun, berbeda dengan di alam bebas yang cenderung hanya berlangsung pada bulan-bulan tertentu saja atau lebih dikenal sebagai hewan pekawin bermusim (seasonal breeder). Salah satu faktor yang kuat berpengaruh terhadap perubahan pola reproduksi antara di alam bebas dengan di penangkaran adalah faktor makanan terutama yang berkaitan dengan kontinuitas ketersediaan pakan (energi) untuk memenuhi kebutuhan reproduksinya. Ruang gerak yang terbatas dalam seluruh aktivitas burung di penangkaran juga membawa implikasi pada efisiensi pemanfaatan energi yang relatif tinggi, sehingga ketersediaan energi tersebut selain untuk memenuhi kebutuhan hidup pokok secara optimal juga dapat digunakan untuk menunjang proses reproduksi.

Daya Tetas Telur
Hasil pengamatan terhadap tujuh sarang dari masing-masing pasang burung diperoleh gambaran daya tetas telur pada burung tekukur 35.71%. Diantara faktor yang diduga berpengaruh terhadap daya tetas telur adalah umur induk, suhu dan kelembaban kandang dan kualitas pakan (Kosin, 1969; Etches, 1996). Selain itu tingkat gangguan lingkungan kandang juga sangat berpengaruh terhadap daya tetas telur, terutama untuk pasangan burung tekukur. Burung tekukur memiliki sifat liar yang relatif masih tinggi sehingga kepekaannya terhadap gangguan faktor lingkungan masih sangat tinggi. Dalam pengamatan diketahui bahwa jika ada gangguan maka cenderung induk betina tekukur yang sedang mengerami telur akan meninggalkan telurnya bahkan seringkali telurnya dimakan atau dipecahkan.

Perilaku Kawin
Hasil pengamatan terhadap perilaku kawin pada burung tekukur dari keseluruhan rangkaian perilaku (Alcock, 1989) maka dapat dibedakan ke dalam tiga tahap (fase), yakni pra-kopulasi, kopulasi dan pasca kopulasi.
1. Perilaku Pra Kopulasi
Perilaku pra kopulasi adalah perilaku yang dilakukan sebelum kopulasi. Tujuan perilaku ini adalah untuk menarik pasangannya agar siap atau mau melakukan kopulasi. Perilaku menarik pasangan ini biasanya dilakukan oleh pejantan, yakni dengan cara bersuara secara berulang (degku.. kuukkur.… ) sambil mengangguk-anggukkan (menggerakan) kepala lalu bergerak mendekati betina, mematuk-matuk atau menyelisik bulu. Suara yang dikeluarkan bersifat khas dan lazim dikenal sebagai suara seksual (sexual calling – sexual vocal). Perilaku pra kopulasi pada burung jantan juga ditunjukkan dengan aktivitas menyiapkan sarang, yakni dengan sering keluar masuk sarang sambil membawa rumput atau ranting-ranting kecil ke dalam atau keluar sarang, diam sesaat di dalam sarang sambil mengeluarkan suara – sex calling. Pada burung betina yang belum siap secara fisiologis biasanya selalu terbang menghindar/menjauh jika didekati atau dicumbu oleh pejantan. Perilaku pra kopulasi ini dapat berlangsung singkat (beberapa jam) sampai beberapa hari (2–3 hari) bahkan kadang-kadang mencapai satu minggu atau lebih, tergantung tingkat kematangan dan kesiapan fisiologis dari burung betina. Pada betina yang terlihat mulai cocok dan siap kawin, tampak diam jika pejantan mulai mendekati, mencumbui dan belajar menungganginya, serta memberikan respons siap dikawini. Frekuensi penunggangan bisa terjadi beberapa kali (3 – 4 kali bahkan lebih). Betina yang sudah siap juga tampak intensif keluar masuk sarang atau belajar diam sesaat di dalam sarang untuk mengenal sarangnya sambil mengeluarkan suara khas …degkku…ku..kuuu.
Keseluruhan rangkaian perilaku pra kopulasi tersebut pada dasarnya bertujuan untuk mempertinggi efektivitas pertemuan sperma dan sel telur atau memungkinkan agar perkawinan yang terjadi dapat berhasil dan efektif menghasilkan keturunan. Jadi perilaku pra kopulasi pada dasarnya berfungsi sebagai proses sinkronisasi kondisi fisiologis diantara pejantan dan betina agar proses kopulasi dapat berlangsung optimal dan efektif. Dalam hal ini faktor penting adalah kondisi hormonal seks di dalam tubuh satwa jantan dan betina.
2. Perilaku Kopulasi
Perilaku kopulasi ditunjukkan oleh naiknya burung jantan ke atas punggung burung betina lalu memasukkan semen/ spermatozoa ke dalam saluran reproduksi betina, ditandai oleh terangkatnya bulu ekor burung betina. Kopulasi berlangsung sangat singkat yakni 2-3 detik. Umumnya kopulasi berlangsung di lantai kandang, meskipun pada beberapa kasus ditemukan kopulasi berlangsung di tempat tenggeran. Waktu kopulasi umumnya terjadi pada pagi hari jam 09.00-11.00 WIB, siang hari (sekitar jam 12.00-13.30 WIB) dan menjelang sore hari sekitar jam 15.00-16.00 WIB. Frekuensi kopulasi terbanyak berlangsung pada siang hari. Dalam satu hari sepasang burung tekukur dapat melakukan kopulasi 4-5 kali, sedangkan burung puter dapat mencapai 5-6 kali dengan jarak waktu antar dua kopulasi secara berurutan dalam satu waktu sekitar satu sampai dua jam.
3. Perilaku Pasca Kopulasi
Segera setelah kopulasi burung jantan turun dari punggung betina sambil mengepakkan sayap, diam sesaat kemudian terbang ke sarang atau tenggeran. Begitu pula halnya dengan burung betina. Setelah itu burung jantan kembali bersuara, terbang keluar masuk sarang dan mencoba kembali mendekati betina. Jika kopulasi yang terjadi itu efektif, biasanya diikuti dengan aktivitas bersama antara jantan dan betina dalam mempersiapkan sarang bagi betina untuk meletakkan telurnya. Dari beberapa kasus yang diamati diketahui bahwa jarak waktu antara kopulasi dengan saat peletakkan telur oleh betina sekitar 3 – 5 hari, kadang-kadang mencapai 7-10 hari. Segera setelah telur semua diletakkan (biasanya dua butir) maka betina mulai mengerami telur tersebut. Dari pengamatan diketahui bahwa secara umum kedua telur itu diletakkan secara berurutan dengan jarak waktu mencapai 23-24 jam, namun dari beberapa kasus juga diketahui bahwa telur kedua diletakkan sekitar 40-48 jam kemudian, pada pagi maupun sore hari. Pengeraman telur dilakukan segera setelah telur kedua diletakkan. Tugas utama pengeraman telur dilakukan oleh induk betina, sedangkan induk jantan hanya membantu terutama dalam mengamankan dan menjaga kestabilan kondisi sarang pada saat induk betina keluar sarang untuk makan dan minum serta menggerakkan tubuh.

C.  Landak Susu (African Pygmy Hedgehog)


 










Tipe Perkawinan
Landak susu termasuk hewan yang monogami. Pada umumnya hewan ini  adalah hewan soliter, selain ibu-ibu dengan anak, dan pasangan selama perkawinan. Mereka sering memiliki rumah wilayah di mana basis pengembaraan mereka di sekitarnya. Betina akan sering berbagi wilayah, meskipun tetap dalam kebiasaan terpisah dari jantannya. Jantan  mungkin lebih teritorial, dan kurang toleran terhadap jantan lain yang mengintai wilayah yang sama.

Musim Kawin
            Disebutkan bahwa satwa ini  tidak bermusim saat kawin, artinya tidak ada kecedrungan waktu tertentu untuk melakukan reproduksi. Hanya saja pada beberapa literatur lainnya disebutkan bahwa musim kawin landak susu di Amerika berkisar pada bulan November dan Desember.

Minimum dan Maximum Breeding Age
Setelah usia 6 bulan, landak betina secara mental dan kesiapan alat reproduksi sudah matang. Jangan mengawinkan pada usia terlalu dini, karena dapat merusak organ reproduksi landak betina, dan akibatnya dia tidak dapat dijadikan indukan yang baik. Naluri sebagai induk pun bisa jadi belum muncul, sehingga dia tidak akan mau menyusui anaknya. Selain itu, kemungkinan besar akan muncul anakan yang tidak sempurna alias cacat. Pengawinan dini juga dikhawatirkan berdampak tidak baik karena alat reproduksinya belum sempurna, dan apabila dipaksakan kawin, maka dapat merusak alat reproduksi secara permanen. Selain itu, landak pun bisa trauma. Apabila terjadi ketrauman’an, maka sudah bisa dipastikan, landak tersebut tidak akan bisa menjadi indukan yang baik

Estrus
Tidak diketahui secara persis lama dan siklus estrus pada landak susu. Sama dengan itu ciri-ciri kehamilan landak satu dengan lainnya, belum tentu sama dan relatif susah untuk ditandai. Demikian juga dengan membesarnya puting susu biasanya akan sulit diamati karena kelenjar susu pada landak tidak sebesar pada mamalia lain seperti anjing. Yang pasti setelah dikawinkan, perlakukanlah landak betina seperti ibu hamil, dan bersabarlah sampai 42 hari terlewati. Lewat 42 hari adalah masa yang aman untuk kembali mencampurkan landak betina dengan pejantannya.

Lama Kebuntingan dan Jumlah Anak Per Kelahiran
Semasa kehamilan, sampai melahirkan sebaiknya jantan dan betina dipisah, tiga puluh lima hari kemudian lahirlah anak-anak landak susu, 4 - 7 ekor sekaligus, tapi berurutan. Mula-mula masih merah, buta, dan tidak berduri. Akan tetapi, ajaibnya, dalam beberapa jam saja duri lunak mereka muncul dari dalam kulit. Setelah beberapa bulan, duri "percobaan" yang masih lunak itu tanggal untuk diganti dengan duri lain yang lebih keras.

Usia Anak di Sapih
Induk landak akan memberikan ASIL (air susu ibu landak) secara eksklusif selama 1 bulan, begitu bayi dapat melihat dan siap belajar berjalan, ibu juga akan mulai proses penyapihan / cerai susu, walaupun ada ibu landak yang akan tetap menyusui selama anak terus ada disamping induknya. Proses penyapihan ini adalah yang terpenting dan proses pertama yang dipelajari anak landak: apakah yg dimakan ibunya, anak landak akan mulai mencoba-coba merangkak masuk ketempat makanan, pertama-tama akan diketemukan sisa kunyahan si anak, bahkan bekas lepehan/ muntahan.
Jadi jangan mencoba memisahkan anak landak dari ibunya saat proses penyapihan belum selesai. Dan sangat tidak disarankan terburu2 menjual anak landak yang terlalu kecil. Demikian pula saat anda membeli anakan landak mini, jangan membeli yang terlalu kecil. Pisahkan anak landak dari ibunya pada usia kira2 dua bulan. Jarak waktu beranak pada landak susu ± 42 hari atau sekita ± satu bulan setengah.

Perilaku Reproduksi
Dihabitat aslinya, mereka menyambut musim kimpoi (mating) dengan teriakan riuh rendah para jantan, mirip dengkuran “ehm ehm”. Mereka mulai berubah bentuk, kelenjar kelaminnya membengkak, sampai perutnya membuncit. Tetapi perut buncit ini justru membuat mereka seksi di mata para betina. Landak jantan pamer perut buncitnya sambil mengelilingi betinanya terus-menerus, diiringi dengkuran secara berkala yang ritmis, sampai betina yang dirayu akhirnya merebahkan semua duri tegangnya.
Rayuan berakhir dan diikuti acara percumbuhan, berupa ambus-ambus (saling menyentuh hidung masing-masing). Selesai acara ini, perkimpoian dimulai, mereka akan saling mengigit bahkan sampai berdarah-darah sambil mendesis. Yang jantan akan mengelilingi yang betina beberapa jam sebelum acara kimpoi (mating), setelah mengelilingi 10-12 kali, akhirnya yang betina tunduk, merebahkan durinya dan si jantan berpegang pada bahu si betina dengan mengigitnya dan terjadilah proses alami yang akan menghasilkan regenerasi.

KESIMPULAN

Pada dasarnya baik ular piton ( Phyton reticulatus), tekukur biasa (Streptopelia chinensis) dan landak susu (African Pygmy Hedgehog) memiliki ciri tersendiri terhadap biologi reproduksinya, baik itu dari tipe perkawinan, musim kawin, minimum dan maximum breeding age, estrus, sampai pada perilaku reproduksinya. Kesemuanya itu menjadi pembeda pada satiap jenis satwa.
Perbedaan itu bukan hanya ditengarai karena ketiganya berasal dari kelas yang berbeda namun dalam satu kelas pun rata-rata terdapat perbedaan yang mencirikan bioreproduksi satwa tersebut. Sebut saja tipe perkawinan, ada yang monogamus, ada pula yang poligamus. Kemudia musim kawin, ada yang bermusim atau pada waktu tertentu saja, ada yang tidak bermusim, atau pula yang hanya terjadinya pada bulan-bulan tertentu. Ini semua kembali pada spesies satwanya masing-masing serta pengaruh lingkungannya mulai dari makanan sampai kepada faktor kondisi iklim yang sedang berlangsung.
Sederhana pembeda antara jenis reptil, aves dan mamalia diatas terlihat dari sistem reproduksinya. Pada Phyton reticulatus dan Streptopelia chinensis bereproduksi dengan cara bertelur. Sementara itu landak susu, akan menghasilkan anak dengan cara melahirkan sehingga ia tidak melalui fase inkubasi atau pengeraman telur.
Disisi lainnya diperoleh bahwa Phyton reticulatus termasuk satwa yang poligamus, yakni kawin dengan banyak pasangan dalam satu musim kawin. Sementara itu Streptopelia chinensis termasuk dalam katagori monogamous temporalis (satu pasangan dalam satu musim kawin dan dapat berganti pasangan pada musim selanjutnya) dan African Pygmy Hedgehog termasuk satwa yang soliter sehingga cendrung, monogamus.
Terhadap usia breeding, ketiga satwa ini memiliki waktu yang berbeda-beda, tergantung dari kematangan alat reproduksi serta pengaruh lingkungan. Semakin kecil ukuran badan pada umumnya, pada spesies yang sama, maka minimum dan maximum breeding age relatif semakin cepat.
Tidak semua satwa mengalami masa estrus. Pada umumnya satwa mamalia (menyusui) mengalami masa ini, begitu pula pada jenis primata. Kemudian pula tidak mudah untuk mendeteksi lama dan siklus estrus ini karena pada beberapa jenis relatif terjadi begitu cepat dan singkat.
Bila dibandingkan atau membedakan antara usia sapih, waktu bertelur/ beranak juga perilaku reproduksi, ketiga satwa di atas sangatlah berbeda. Terdapat karakteristik masing-masing yang menjadi pembeda di antara ketiganya. Hal ini terlihat jelas terutama pada perilaku reproduksi. Masing-masing satwa tersebut memiliki gaya akrobatik tersendiri dalam menarik perhatian betina sebelum kawin, mulai dari gerakan memutar, mengeluarkan feromon, sampai pada mengeluarkan bunyi-bunyi yang dapat menarik perhatian lawan jenisnya. Serupa dengan itu tahapan-tahapan yang dilewati sampai pada saat setelah fertilisasi berlangsung, juga berbeda.

DAFTAR PUSTAKA

Alcock J. 1989. Animal Behavior. An Evolutionary Approach. Sunderland. Massachusetts. Ainauer Associates Inc, Publisher.
Etches RJ. 1996. Reproduction in Poultry. Cab International. Canada.
Gillingham JC, Carpenter C, Brecke BJ, Murphy JB. 1977. Courtship and Copulation Behaviour of The Mexican Milksnake Lampropeltis triangulum sinaloae (Colubridae). Southwest Nat. 22: L. 185-194.
Grimes, J.L. 1994. The effect of protein level fed during the prebreeder period on performance of Large White Tukey Breeder hens after an induced molt. J. Poultry Sci., 73: 37-44.
Junaedi. 1999. Aspek Reproduksi ular sanca karpet (Morelia spilota spp). [Skripsi]. Fakultas Kehutanan, Institut Pertanian Bogor: Bogor.
Masy’ud B.1989. Memperbaiki habitat Satwaliar. Media Konsevasi (II): Hal 39-47.
Nalbandov AV. 1990. Fisiologi Reproduksi pada Mamalia dan Unggas. Edisi Ketiga. Jakarta. UI Press.
Pakihudin A. 2002. Cara perawatan Ular Sanca (Python) sebagai Hewan Kesayangan. Teknis Medis Veteriner. [Skripsi]. Fakultas Kedokteran Hewan, Insitut Pertanian Bogor: Bogor.
Pamungkas RB. 2001.Ular Sanca Batik (Python reticulaus) di Taman Reptilia Tama Mini Indonesia Indah. [Skripsi]. Fakultas Kedokteran Hewan, Insitut Pertanian Bogor: Bogor.
Parker JE. 1969. Reproduction Physiology in Poultry. Dalam Reproduction in Farm Animals. Second Edition. Editor ESE. Hafez. Lea & Febiger, Philadelphia. Pp235-254.
Ross, Richard A, Marzec G. 1990. The Reproductive Husbandry of Pythons an Boas. Institute for Herpetoligal Research.Stanford. California.
Sentanu AB. 1999. Studi Penangkaan dan Perilaku Kawin Ular Sanca Hijau (Morelia viridis) di CV Terraria Indonesia. [Skripsi]. Fakultas Kehutanan, Institut Pertanian Bogor: Bogor.
Short LL. 1993. The Lives of Bird. Birds of The World and Their Behavior. New York. Henry Honlt and Company.
              Alcock J. 1989. Animal Behavior. An Evolutionary Approach. Sunderland. Massachusetts. Ainauer Associates Inc, Publisher.
Sibley CG & JE Ahlquist. 1990. Phylogeny and Clasification of Birds. A Study in Molecular Evolution. New Haven & London. Yale University Press.
Suharmono. 1998. Aspek Reproduksi Kadal Lidah Biru (Tiliqua sp.). [Skripsi]. Fakultas Kehutanan, Institut Pertanian Bogor: Bogor.
Tanudimadja K, Kusumamihardja S. 1985. Perilaku Hewan Ternak. IPB Press: Bogor.
Toelihere MR. 1985. Inseminasi Buatan Pada Ternak. Bandung. Penerbit Angkasa.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar